Jumat, 13 Maret 2009

Layanan untuk Anak Inklusi Masih Terbatas

Jakarta, CyberNews. Layanan terhadap anak usia dini yang memiliki kebutuhan khusus (inklusi) masih sangat terbatas. Bahkan, di tataran pengetahun tentang konsep pendidikan anak berkelainan khusus ini juga masih minim.
Ketua Umum Himpunan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Indonesia (HIMPAUDI) Gusnawirta Fasli Jalal mengatakan baru sekitar 34 persen PAUD yang menberikan layanan bagi anak berkebutuhan khusus. Walau bukan prioritas namun harus dipacu serta ditingkatkan layanannya srhingga perkembangan semua anak di masa depan maksimal.
Ditemui usai Seminar Peningkatan Pelayanan PAUD Layanan Khusus (inklusi) di gedung Depdinas Jakarta, Jumat (13/4), dia menjelaskan kalau jumlah PAUD sendiri, khususnya yang melayani anak usia 0-4 tahun masih sangat sedikit dan baru mampu melayani 25 persen dari seluruh anak usia tersebut di Indonesia.
Artinya kehadiran PAUD layanan khusus belum menjadi prioritas di saat gerakan pengembangan PAUD juga masih belum optimal. Tatapi HIMPAUDI menurutnya tetap memberikan perhatian serius dan menjadikan bagian program di masa depan.
Saat ini HIMPAUDI sebagai organisasi yang memiliki tugas meningkatkan mutu dari tenaga pendidik dan kependidikan PAUD, bekerja sama dengan ppsikolog dan pihak terkait akan memberikan pelatihan dan pembinaan bagi pengelola maupun pendidik PAUD yang menyelenggarakan layanan bagi anak berkebutuhan khusus (inklusi).
Sebagai organisasi profesi yang menyadari begitu beragamnya latar belakang pendidikan para pendidik PAUD, HIMPAUDI bertekad meningkatkan penyelenggaraan pelatihan, seminar, workshop dll yang bertujuan meningkatkan mutu SDM di PAUD formal (TK/RA) dan nonformal (Kelompok Bermain, TPA, Pos (PAUD).
"Kita menyadari latar belakang pendidik PAUD beragam, ada dari SMEA, pertanian dan lainnya. Tapi kita sadar bangsa ini kekurangan tenaga pendidik sementara kebutuhan besar. Artinya dedikasi sudah cukup, hanya perlu ditambahkan bekal pengetahuan," ujar Gusnawirta.
Psikolog Fauziah Azwin, mengatakan pelayanan PAUD inklusi di Indonesia masih tidak optimal. Masih banyak konsep, APE maupun kurikulum yang sesungguhnya sudah dirancang oleh psikolog dan pakar pendidikan Dalam Negeri tetapi belum dimanfaatkan.
Begitu juga masalah perhatian Pemerintah dalam bentuk kebijakan dan pendanaan terhadap kegiatan-kegiatan yang mengarah pada pengingkatan SDM pelayan pendidikan layanan khusus, pengadaan dan penerapan konsep, riset dan program terkait lainnya belum seperti yang diharapkan.
Ditegaskannya juga betapa penting keberadaan layanan khusus atau PAUD inklusi, karena dengan adanya perhatian dan pendidikan serius bagi anak berkebutuhan khusus sejak usia dini, maka diharpkan akan terjadi perbaikan yang lebih optimal.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar